URGENSI METODE
DAN MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Suatu Kajian terhadap gagasan Metode dan Media Dalam Pendidikan Islam
Dalam
Kitab Nahwa Tarbiyah Islamiyah Rasyidah Tahun 2006
Oleh Muhammad Bin
Syakir Asy-Syarif
Halaman 45-56
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
OLEH
F a i s a l
NIM
: 25131774-2
Dosen
Pembimbing
Dr.
Syabuddin Gade, M. Ag.

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM BANDA ACEH
TAHUN 2015
Syukur
Alhamdulillah dengan hidayah dan izin Allah SWT penulis telah dapat menyusun
sebuah makalah yang sederhana ini dengan judul: URGENSI METODE DAN MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM “Suatu Kajian terhadap gagasan Urgensi Metode dan Media Dalam
Pendidikan Islam Oleh Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif. Salawat beriringan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa umatnya ke alam berperadaban islami seperti yang kita rasakan
sekarang.
Terima kasih
penulis sampaikan kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah Studi Naskah, Dr. Syabuddin Gade, M. Ag. yang telah memberikan ilmu dan membimbing penulis dalam pembahasan makalah
ini. Terima kasih juga kepada sahabat-sahabat Mahasiswa-(i) Kosentrasi Pendidikan Islam PPS UIN Ar-Raniry yang telah berpartisipasi aktif dalam pembahasan
makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran
dan kritik sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga
tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.
Banda
Aceh, 23 Januari 2015
Penulis
F A I S A L
NIM: 25131774-2
URGENSI METODE
DAN MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Suatu
Kajian Terhadap gagasan Metode dan Media dalam Pendidikan Islam
Dalam
Kitab Nahwa Tarbiyah Islamiyah Rasyidah Tahun 2006
Oleh
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif
(Halaman
45-56)
A. Pendahuluan
Metode dan media
dalam pendidikan islam mempunyai peranan penting sebab merupakan
jembatan yang menghubungkan pendidik dengan anak didik menuju kepada tujuan
pendidikan Islam yang terbentuknya kepribadian muslim yang ideal. Berhasil atau
tidaknya pendidikan Islam ini dipengaruhi oleh seluruh faktor yang mendukung
pelaksanaan pendidikan Islam ini
salah satunya melalui penggunaan metode dan media.
Apabila timbul permasalahan di dalam Pendidikan Islam khususnya dalam pemilihan penggunaan metode dan
media, maka kita harus dapat mengklasifikasikan masalah
yang kita hadapi itu ke dalam faktor-faktor yang ada. Apabila seluruh faktor
telah dipandang baik terkecuali faktor metode dan media, maka kitapun harus pandai memperinci dan
mengklasifikasikan ke dalam klasifikasi masalah metode pendidikan yang lebih
kecil dan terperinci lagi. Misalnya dalam segi apa dari masalah metode dan/atau
alat apa? Memang masalah metode ini sangat penting, karena itulah Rasulullah
mengajarkan kemampuan dan perkembangan anak didik.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif
Mengelompokkan metode dan media kedalam beberapa jenis, sebagai berikut: metode
kisah nyata, metode bermain, praktek langsung, metode adat/kebiasaan, metode
contoh teladan, metode perlombaan/musabaqah, seterusnya media itu disesuaikan
dengan pengunaan metode, disini beliau juga mengupas tentang hal media/sarana
dan prasarana yang bisa dipergunkan oleh pendidik dalam mendidik, akan tetapi
seorang pendidik bisa menggunakan, Mesjid, rumah dan juga halaman rumah sebagai
media pendukung, namun media yang lebih canggih juga diperbolehkan digunakan
oleh guru dalam mendidik, seperti: Computer, LCD/OHP, Tape rekorder, Radio, MP3,
dan berbagai jenis media elektronik lainnya untuk mendukung pembelajaran yang
lebih baik.
Metode pendidikan Islam di sini adalah jalan, atau cara
yang dapat ditempuh untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam
kepada anak didik agar terwujud kepribadian muslim. Alat pendidikan Islam yaitu
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.
Metode dan alat pendidikan Islam yaitu cara dan segala apa saja yang dapat
digunakan untuk menuntun atau membimbing anak mulai dalam masa pertumbuhannya agar kelak menjadi
manusia berkepribadian muslim yang diridai oleh Allah. Fungsi Metode dan media dalam dunia Pendidikan Islam untuk mengarahkan
keberhasilan
belajar, pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan
operasional dari ilmu pendidikan. Dengan demikian jelaslah bahwa urgensi pengaplikasian metode dan media amat berfungsi
bagi penyampaian tujuan pendidikan Islam.
B. Kandungan Isi Teks
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif mengatakan bahwa untuk lebih jelasnya tentang pengertian dan urgensi pengaplikasian metode dan media
dalam pendidikan Islam mari kita melihat, metode disini bermakna tariqat
atau jalan untuk mencapai sebuah tujuan, adapun tujuan yang hendak dicapai
disesuaikan dengan konteks yang hendak dibahas, begitu juga media, media
merupakan sumber pendukung atau sebagai jembatan untuk menghubungkan guru dan
anak didik dalam pembelajaran.
Seterusnya Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif menyebutkan bahwa: Rasul
sudah mengimplementasikan berbagai metode dalam pendidikan Islam, sedangkan
sarana-prasarana/media pendidikan pada masa tersebut disesuaikan dengan kondisi
masyarakat yang ada pada masa tersebut termasuk pengembangan media.
Lebih lanjut Beliau mengatakan inti yang pertama bagi seorang
guru pada setiap saat sebelum mengajar perlu menyiapkan berbagai metode dan
sarana yang membantunya dalam mengajar, yang kedua tahapan belajar sianak itu harus
dilatih dengan hafalan dengan metode berulang-ulang, beda dengan orang dewasa. Selanjutnya Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif akan mengulas dan mengupas
beberapa metode pendidikan Islam yang bisa digunakan oleh seorang guru dalam
mendidik, antaara lain sebagai berikut:
1.
Metode kisah nyata
Dalam mendidik si anak, Muhammad Bin
Syakir Asy-Syarif mengatakan lebih bagus
mendidik sianak dengan kisah nyata, karena isi dari kisah menjadikan mereka
terpana, rasa ingin mendengar kembali, dan alangkah banyak kisah-kisah nyata,
cukup untuk mendidik anak dari segi kejujuran, amanah, mengerjakan kewajiban,
keberanian, menolong orang yang membutuhkan, sayang kepada orang miskin,
menghargai orang dewasa dan lain-lain.
Dalam hal ini Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif mengatakan bagi pendidik bisa
mengambil kisah-kisah nyata yang banyak manfaat dari buku-buku biografi, karena
dari buku biografi banyak kisah-kisah nyata yang cukup untuk mendidik sang anak, seperti peperangan Nabi, biografi
para sahabat, mengisahkan tentang panglima peperangan.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif menjelaskan bahwa orang-orang terdahulu
selalu mendidik anak dengan kisah-kisah rasul. Seperti yang telah dilakukan
oleh Ali Bin Husen “Dari Ali Bin Husein
kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan Nabi Muhammad, seperti
kami menjelaskan satu surat Al-Qur’an”. Inti cerita untuk merealisasikan dalam
kenyataan-bukan hanya untuk sekedar dihayalkan di renungi.
Lebih lanjut Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif menyebutkan bahwa: Allah dan
Nabi menggunakan metode kisah di dalam Al-Qur’an dan Hadits yang didalam nya
terkandung hal-hal pendidikan. Nabi bercerrita Kepada Aisyah. Bagaimana
hubungan istri-istri terdahulu dengan suami. Misal kaum Bani Israil. Itu semua
untuk mendidik, seperti dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 111:
ôs)s9 c%x. Îû öNÎhÅÁ|Ás% ×ouö9Ïã Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# 3 $tB tb%x. $ZVÏtn ....2utIøÿã ÇÊÊÊÈ
Artinya: “Sesungguhnya
pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan
(kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.
Menurut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif, inti dari pada ayat diatas untuk digunakan
seorang pendidik dalam mendidik. Kadang-kadang seorang pendidik menggunakan
kisah yang belum terjadi, namun hal itu bagaimana dapat meningkatkan minat dari
anak didik sehingga secara tidak langsung dapat ditanamkan agama dalam hati
mereka seperti perkara Aqidah, Akhlak, tingkah laku yang tidak nyata.
Seterusnya Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif memaparkan tentang keberadaan
kisah tentang akhlak yang tidak Islam ataupun yang menyelisih akidah Islam
harus dijauhkan, walaupun menarik minat sianak dalam belajar, dan tidak boleh
ditoleransi dalam hal ini dengan mengatakan: kita ambil yang baik dan yang
buruk menjelaskan kepada sianak untuk tidak meniru atau mengambil, sabab saat
anak belum mencapai umur (mumayyiz), dan tidak benar jika diajarkan hal-hal yang
tidak benar. Karena akan membuat dia terombang ambing.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif juga mengatkan bahwa tidak boleh bercerita
kepada anak-anak kisah-kisah yang berbau khurafat atau cerita-cerita hayalan
yang tidak nyata. Seperti kisah seorang manusia masuk dalam perut burung, untuk
menjadi mata-mata, padahal tidak ada. Kisah tidak benar, Ada akhlak yang buruk
dan iri bertentangan dengan Firman Allah, kemudian menjauhkan dari kenyataan. Adapun
kisah nyata yang tidak terjadi dan bukan khurafat, namun kemungkinan bisa
terjadi ini, bisa saja diambil dengan tetap menjaga norma-norma Islam. Media
Yang bisa digunakan dalam menggunakan metode kisah nyata, yaitu berupa komputer
dan infokus, kemudian bisa juga menggunakan MP3, Selanjutnya bisa juga
menggunakan buku-buku yang relevan dengan kisah-kisah menarik dalam Islam.
2.
Metode mendidik anak dengan bermain.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif mengatakan
penggunaan metode bermain, hal yang paling utama dapat
membahagiakan/menyenangkan jiwa sang anak, jangan hanya bermain semata, tetapi
mengandung unsur pendidikan, guna membangun karakteristik sang anak pada segala
aspek, menguatkan badan, membuka cakrawala berpikir sianak, seperti hubungan
dengan masyarakat, melaksanakan gotong royong bersama,, dalam hal ini membuat
anak, sabar dalam menjalankan tugas, dulu para sahabat, memainkan anak supaya
tahan lapar ketika berpuasa, kalau sudah lapar, anak nangis dikasih mainan,
agar hilang rasa lapar.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif menyebutkan di dalam kitabnya bahwa;
“Berkata oleh Rabi’ bin Muawwad: Kami berpuasa dan
anak kami berpuasa, kami menciptakan sebuah mainan untuk anak-anak kami, kalau
dia lapar, kamikasih mainan, Kemudian Ibnu Hajar berkata: Itu dibolehkan untuk
digunakan mendidik sianak. Jadi siapa yang tidak kasih mainan untuk anak,
bahkan dilarangyang tidak kasih mainan untuk anak.
Lebih lanjut Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif menegaskan apalagi permainan
yang mengandung peningkatan karakteristik islam, tidak boleh dilupakan,
walaupun kadang-kadang tidak bagus permainan itu, tetatpi ada unsur
mendidiknya, dan yang penting juga keselamatan jiwa anak-anak pada permainan
yang menyia-nyiakan waktudan tidak mengganggu kegiatan atau rutinitas hari
anak-anak. Kadang permainan harus hati-hati kita ambil seperti mainan computer,
mempengaruhi waktu dan kesehatan, kemudian membuat dia malas, lalai, boleh
pakai computer tetapi harus terjaga, karena sebagian dari isi computer
bertentangan dengan syariat.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif
mengatakan sebagian permainan tidak mungkin dibuat di rumah karena perlu tempat
luas, dan pastinya memerlukan halaman (lapangan), tentu dibawah bimbingan
seorang pendidik, karena kita tidak mengetahui ketika tidak ada pendidik
bersama, Seperti kisah Yusuf, waktu anak
Nabi Yaqub bermain, tidak hadir Nabi Yaqub, rupanya ada rencana jahat dari
anak-anaknya terhadap Nabi Yusuf, Sebagaimana Dalam Al-Qur’an dikisahkan dalam
Surat Yusuf Ayat 12:
ã&ù#Åör& $oYyètB #Yxî ôìs?öt ó=yèù=tur $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»yss9 ÇÊËÈ
Artinya: “Biarkanlah Dia pergi bersama Kami besok pagi, agar Dia (dapat)
bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan Sesungguhnya Kami pasti
menjaganya”.
Menurut pandangan Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif
inti dari ayat diatas Anak-anak
kadang-kadang salah penggunaan bahasa yang dibiasakan dan jangan dibuat bahan
candaan itu sikap salah, tapi dibenarkan bahan kalimat tersebut, itu tugas
seorang pendidik, membetulkan bahasa tersebut sampai benar. Misal lafaz/bahasa
sedikit tidak menjadi masalah dan tidak lewat umur 4, 5 tahun dan kalau kalimat
banyak lebih umur tersebut berarti ada kelainan pada anak, maka dibawa ke
dokter yang ahli menobati masalah anak. Media yang bisa digunakan seiring
dengan metode bermain seperti: Computer, LCD/OHP, Tape rekorder, Radio, MP3, dan
berbagai jenis media elektronik lainnya untuk mendukung pembelajaran yang lebih
baik.
3.
Metode praktek langsung/Lapangan.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif menjelaskan bahwa orang banyak menyangka yang
namanya percobaan harus di dalam laboratorium, untuk memulai dan menetapkan
sebuah hal yang ilmiah, padahal bukan seperti itu, itu merupakan sebuah dugaan
yang salah. Kisah orang-orang terdahulu, telah ada praktek percobaan yang di
didik kepada anak-anak bahwa bersatu adalah sumber kekuatan, ibarat lidi,
kemudian anak-anak dari itu anak-anak bisa mengambil kesimpulan yang berupa
sebab:
1)
Menanamkan pada
diri seorang anak bahasa kesatuan sumber kekuatan
2)
Seorang yang lemah
bisa kuat, jika berkumpul dengan saudara-saudaranya.
3)
Membiasakan anak
dalam mengambil pelajaran dari apa yang terjadi disekitar anak-anak mereka.
Seorang pendidik, cara seperti ini yang
harus digunakan, tetapi arus jauh dari hal-hal yang berbahaya. Karena anak-anak
akan mengulang-ngulang praktek itu, sehingga tidak berbahaya bagi dia.
4.
Metode adat/kebiasaan
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif mengatakan untuk membiasakan sesuatu, yang
membiasakan itu tentu oleh guru, untuk menumbuhkan sifat baik pada diri anak,
sehingga sudah terbiasa, tidak susah lagi untuk dikerjakan oleh karena itu
suatu tingkah laku, diubah menjadi suatu adat kebiasaan, ini adalah sarana yang paling penting dalam mendidik dan
menumbuhkan usaha berkelanjutan dari seorang pendidik dalam mengubah sikap
menjadi kebiasaan, dan dengan cara diulang oleh guru, sehingga ia mengerjakan
dalam kebiasaan hari-harinya. Lebih lanjut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif menguatkan di dalam kitabnya dengan pendapat Ibnu
Mas’ud berkata: janganlah anak-anak kalian dalam shalat dan ajarkanlah mereka
kebaikan karena kebaikan adalah kebiasaan, kisah dulu, para istri membawa
anak-anak ke Mesjid, Rasulullah meringankan shalat. Media yang bisa digunakan
berupa halaman rumah, bisa juga digunakan komputer dan infokus, serta berbagai
macam media yang relevan untuk kebutuhan yang mau dipraktekkan oleh guru dan
anak didik.
5.
Metode mendidik dengan contoh teladan
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif menganjurkan bagi pendidik untuk mendidik secara langsung
dari murabbi/pendidik kepada murid seperti kebiasaan jujur dihadapan anak-anak.
Kemudian Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif mempertegas argumennya dengan
mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i, sebagai berikut: “Berkata Imam Syafi’i
meningatkan Abu Abdissamad yang mengajarkan anak Harun ar-Rasyid, Anda perbaiki
diri sendiri dulu sebelum memperbaiki anak-anak Harun ar-Rasyid, karena
mata-mata anak itu akan melihat dengan sikap dan mata, sehingga yang baik pada
anda akan diambil pelajaran oleh anak, begitu juga sebaliknya”. Intinya seandainya
sikap pendidik jujur, lebih berpengaruh dalam mendidik anak. Praktikum dari
seorang guru walau dalam perkembangan dunia, misal disiplin pada lampu merah. Seandainya
melihat gurunya menolong orang buta di jalanan. Intinya guru itu merupakan
teladan bagi anak didiknya.Media yang bisa digunakan seperti: memberikan teladan guru kepada anak didik
baik di alam terbuka seperti di Mesjid, Menasah, atau di Jalan Raya, Media
disini bisa juga ditambah seperti: Komputer, Tape rekorder, Radio, MP3, dan
berbagai jenis media elektronik lainnya untuk mendukung pembelajaran baik
ketika berada di sekolah atau diluar sekolah.
6.
Metode mendidik dengan perlombaan/musabaqah
Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif mengatakan metode ini, metode yang
paling sukses dan ini diadakan antara anak, siapa yang sanggup memberi jawaban
seputar masalah aqidah akhlak, intelektual anak, tetapi harus memperhatikan
umur anak, biar juga diatas kemampuan anak, karena berpengaruh pada pembentukan
akhlak si anak. Kemudian Muhammad Bin
Syakir Asy-Syarif mengatakan, tetapi soal yang sesuai
dengan umur anak ini banyak berfaedah, salah satunya dia merasakan ada
kemampuan untuk menjawab soal, kemudian kemampuan dalam memahami belajar dan
mengambil kebaikan. Lebih menambah keoptimisan seorang anak dalam belajar
dibanding soal yang tidak dapat dijangkau oleh kemampuan sianak, caranya
sebelum memberi soal, menjelaskan dengan cerita dulu apa sianak memahami baru
menjawab.
Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif mengatakan seperti penjelasan
sebatang pohon kayu, sebagai berikut:
1. Seperti pohon kayu, seperti layak
seorang muslim, apa pohon itu? Ditanyak pada sahabat, ditebak-tebak pohon
kurma? Akarnya kuat, namun batang/tubuh kuat, daunnya mengembang (amalan
banyak)
2. Diatas umur anak-anak tidak
berfaidah yang ada bimbang arah
3. Tidak efesien waktu
Dalam hal penggunaan media dalam mendidik, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif
mengatakan keseluruhan metode diatas bisa dihubungkan dengan alat teknologi dalam
membantu pendidikan seperti MP3 hafalan Al-Qur’an, Vidio audio visual tentang
pendidikan akhlak. Seterusnya Muhammad
Bin Syakir Asy-Syarif mengatkan bahwa, kaset, laptop, komputer,
hal itu terbukti lebih bagus bahasannya dari pada kawan-kawan lain dengan
penelitian murid yang dididik dengan metode dan media, dan media ini harus
dipilih oleh pendidik, bukan kesukaan anak langsung dibeli, karena tujuannya
adalah untuk mendidik anak, bukan untuk membuang-buang waktu atau memuaskan
keinginannya anak-anak. Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif menyarankan untuk pengajaran Penting sekali ada sebuah
yayasan pendidikan yang menghasilkan media-media belajar yang bagus, jadi media
yang ada itu dibuat atau dirancang bukan untuk kepentingan pribadi pendidik tapi
untuk kepentingan masyarakat demi kemaslahan semua warga sekolah maupun umum.
C. Analisis Kritis Terhadap Metode dan Media Dalam
Pengembangan Pendidikan islam
Dalam Konteks Pendidikan
Islam, “karakteristik guru selalu tercermin dalam aktivitasnya sebagai murabbiy, mua’allim, mudarris dan mu’addib.”[1]
Dari beberapa
isitilah pendidik diatas mengisyaratkan, bahwa
pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan dan
kematangan aspek jasmani dan rohani dan spritual seseorang. Pendidik itu bisa saja orang tua dari si terdidik itu sendiri, atau orang
lain yang telah diserahi tanggung jawab oleh orang tua.
Mengutip kandungan isi teks paragraf
pertama pandangan Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif dalam makalah ini metode
disini bermakna tariqat[2],
atau jalan untuk mencapai sebuah tujuan, adapun tujuan yang hendak dicapai
disesuaikan dengan konteks yang hendak dibahas, begitu juga media, media
merupakan sumber pendukung atau sebagai jembatan untuk menghubungkan guru dan
anak didik dalam pembelajaran. Metode merupakan suatu cara yang digunakan dalam mengajar agar tercapainya
tujuan pengajaran. Selanjutnya Mansyur, dkk mengemukakan : “Metode mengajar adalah cara
yang dipergunakan dalam menyajikan bahan pelajaran yang memperhatikan
keseluruhan situasi belajar untuk mencapai tujuan”.[3]
Bahwa
makna metode adalah tariqat atau jalan untuk mencapai sebuah tujuan, menurut
penulis sependapat dengan pandangan beliau karena metode adalah salah satu cara
yang ditempuh oleh guru dalam mendidik untuk mencapai tujuan secara efektif,
hal ini juga sama seperti yang disampaikan oleh Nur Ubhiyati, sebagai berikut: metode artinya suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.[4]
Lebih lanjut Abdullah Mujib juga mengatakan bahwa: Tugas
utama metode pendidikan Islam adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip
psikologis dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang
terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar anak mengetahui, memahami,
menghayati, dan meyakini materi yang diberiakan, serta meningkatkan ketrampilan
olah pikir.[5]
Dalam penggunaan metode pendidikan islam yang perlu dipahami adalah
bagaiman seseorag pendidik dapat memahami hakikat metode dalam relevansinya dengan tujuan utama pendidikan
Islam yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi
kepada Allah swt. Sebagimana yang
disampaikan oleh Djaja
Sastra Yusuf, dalam mengunakan metode
mengajar harus di perhatikan beberapa hal :
1
Metode
mengajar yang digunakan harus dapat meningkatkan motif, minat dan gairah
belajar anak.
2
Metode
mengajar yang digunakan harus dapat
menjamin perkembangan kegiatan kepribadian anak.
3
Metode
mengajar yang digunakan harus dapat memberikan kesempatan bagi
ekspresi yang relatif bagi kepribadian murid.
4
Metode
yang digunakan harus dapat merangsang keinginan murid untuk belajar lebih lanjut melakukan eksplorasi dan
inovasi
5
Metode
mengajar harus dapat mendidik dalam teknik belajar sendiri dan cara
memperoeh pengetahuan melalui usaha
pribadi.
6
Metode
mengajar harus dapat membedakan pengajaran yang bersifat verbalitas dan
menggantikannya dengan pengalaman atau situasi yang nyata.
7
Metode mengajar yang digunakan
harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai dan sukap utama yang diharapkan dalam keberhasilan cara kerja
yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
8
Metode mengajar yang digunakan harus dapat
membimbing murid agar akhirnya berdiri sendiri
atau tanggunga jawab sendiri.[6]
Dengan demikian agar
pencapaian tujuan pengajaran dapat berhasil secara optimal maka
guru harus mampu menggunakan metode pengajaran yang tepat, sehingga
kesesuaian antara metode mengajar dengan yang diajarkan dapat mengaktifkan
kemampuan afektif, kognitif dan psikomotor anak.
Tujuan penggunaan metode adalah
menjadikan proses dan hasil belajar mengajar ajaran Islam lebih berdaya guna
dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran peserta didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran islam melalui metode yang menimbulkan
gairah belajar peserta didik secara efektif. Uraian itu menunjukkan bahwa fungsi metode pandidikan Islam adalah
mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan kepada peserta didik untuk
belajar berdasarkan minat, serta mendorong usaha kerja sama dalam kegiatan
belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik. Di samping itu, dalam
uaraian tersebut ditunjukkan bahwa fungsi metode pendidikan adalah memberi
inspirasi pada peserta didik melalui proses hubungan yang serasi antara
pendidik dan peserta didik, serta
meningkatkan kesadaran belajar peserta didik untuk lebih taqwa Sang Khaliq. Kemudian mengutip pendapat pandangan Muhammad Bin
Syakir Asy-Syarif dalam paragraf yang kedua seorang pendidik dalam mendidik
dapat menggunakan beberapa metode dalam mengajar, antara lain sebagai berikut:
Muhammad
Bin Syakir Asy-Syarif mengatakan mendidik
sianak dengan metode kisah nyata, karena isi dari kisah menjadikan mereka
terpana, rasa ingin mendengar kembali, dan alangkah banyak kisah-kisah nyata,
cukup untuk mendidik anak dari segi kejujuran, amanah, mengerjakan kewajiban,
keberanian, menolong orang yang membutuhkan, sayang kepada orang miskin,
menghargai orang dewasa dan lain-lain.
Seorang
pendidik dalam mengajar yang pertama bisa menggunakan metode kisah nyata,
berkaitan dengan penggunaan metode ini penulis setuju apabila metode ini
diterapkan dalam pembelajaran, karena di dalam Al-Qur’an juga tentang urgensi
penggunaan metode kisah dalam mendidik, sebagaimana terdapat dalam surat hud,
ayat 20, sebagai berikut:
yxä.ur
Èà)¯R
y7øn=tã
ô`ÏB
Ïä!$t6/Rr& È@ß9$#
$tB àMÎm7sVçR ¾ÏmÎ/ x8y#xsèù 4 x8uä!%y`ur
Îû ÍnÉ»yd ,ysø9$#
×psàÏãöqtBur
3tø.Ïur
tûüÏYÏB÷sßJù=Ï9 ÇÊËÉÈ
Artinya: “dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan
kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam
surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang
yang beriman”.[7]
Inti dari pada ayat diatas metode kisah dalam pendidikan islam
terutama pendidikan agama islam sangatlah penting, hal itu salah satunya
dikarnakan kisah selalu memikat karena mengundang pembaca atau pendengar untuk
mengikuti peristiwanya, dan merenungi maknanya. Alangkah baiknya menurut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif apabila mendidik
dengan metode ini, beliau menganjurkan para pendidik bisa mengambil kisah-kisah nyata yang banyak manfaat dari
buku-buku biografi, karena dari buku biografi banyak kisah-kisah nyata yang
cukup untuk mendidik sang anak, seperti
peperangan Nabi, biografi para sahabat, mengisahkan tentang panglima
peperangan.
Selanjutnya
metode yang kedua yaitu mendidik dengan menggunakan metode bermain, penulis
setujua penggunaan metode ini dalam mendidik, sebagaimana pendapat Ahmad
Fathoni, sebagai berikut: Metode ini merupakan bentuk
pendidikan dengan menduplikasikan bagian-bagian peting dalam bentuk yang
sesungguhnya kedalam bentuk permainan.[8]
Lebih lanjut metode bermain/simulasi merupakan cara
menjelaskan sesuatu mellaui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui
proses tingkah laku imitasi, atau bermain peranan mengenai suatu tingkah laku
yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan yang sebanarnya[9]
Bentuk dari permaianan simulasi ada beberapa
macam antara lain : peer teaching (latihan mengajar oleh siswa kepada
teman-teman calon guru), sosiodrama, psikodrama, simulasi game, role playing. Metode ini
merupakan metode yang dipakai jika seorang guru bertujuan unutk melatih siswa
berbaur dalam masyarakat dengan berbagai problematikanya. Sehingga siswa
belajar untuk bertindak dan bertingkah laku dalam situasi sosial tertentu. Dalam
pendidikan agama metode ini sangat cocok digunakan untuk menanamkan akhlakul
karimah dalam diri siswa.
Metode
yang ketiga dikatakan oleh Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif adalah dengan menggunakan metode praktek
langsung/lapangan, menurut beliau kisah
orang-orang terdahulu, telah ada praktek percobaan yang di didik kepada
anak-anak bahwa bersatu adalah sumber kekuatan, ibarat lidi, kemudian anak-anak
dari itu anak-anak bisa mengambil kesimpulan yang berupa sebab:
1)
Menanamkan pada
diri seorang anak bahasa kesatuan sumber kekuatan
2)
Seorang yang lemah
bisa kuat, jika berkumpul dengan saudara-saudaranya.
3)
Membiasakan anak
dalam mengambil pelajaran dari apa yang terjadi disekitar anak-anak mereka.
Metode ini biasanya dipakai untuk
materi-materi yang bersifat motoris dan keterampilan. Metode ini digunakan
untuk memeperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan yang biasanya memerlukan
latihan secara terus-menerusterhadap suatu bahan pelajaran. Hasil dari metode
ini adalah menambah daya fikir atau daya ingat serta bertambahnya pengetahuan
atau pemahaman siswa [10]
Yang keempat metode
adat/kebiasaan, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif
mengatakan untuk membiasakan sesuatu, yang membiasakan itu tentu oleh
guru, untuk menumbuhkan sifat baik pada diri anak, sehingga sudah terbiasa,
tidak susah lagi untuk dikerjakan oleh karena itu suatu tingkah laku, diubah
menjadi suatu adat kebiasaan. Metode ini juga cocok untuk diterapkan oleh
pendidik dalam mengajar.
Yang kelima metode contoh
teladan, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif mengatakan
Intinya sikap
pendidik jujur, lebih berpengaruh dalam mendidik anak. Praktikum dari seorang guru
walau dalam perkembangan dunia, misal disiplin pada lampu merah. Seandainya
melihat gurunya menolong orang buta di jalanan. Intinya guru itu merupakan
teladan bagi anak didiknya. Bagaimana seorang guru bisa mempraktekkannya, lalu
anak akan meniru mencontoh apa yang dilihat oleh sianak dalam kehidupan gurunya
dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai macam aktivitas baik di sekolah
maupun luar sekolah, sebagaimana yang disampaikan oleh Ramli Maha, sebagai
berikut: Pendekatan keteladanan ini beranjak dari
asumsi bahwa belajar melalui peniruan terhadap manusia lain (social learning)
adalah sangat penting dalam Pembelajaran. peniruan ini menurut Bendura dalam Ramli Maha mengatakan: “Peniruan dapat
berlangsung dalam beberapa cara, yaitu ; (1) menyerap nilai-nilai dari orang
lain ; (2) belajar dari keberhasilan orang lain ; dan (3) belajar dari
kegagalan orang lain (untuk dihindarinya)”. Keteladanan ini ada yang langsung (orangnya) dan
yang tak langsung (kisah/ceritanya).[11]
Metode
yang terakhiratau yang ke enam metode
perlombaan/musabaqah, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif mengatakan metode yang paling sukses dan ini diadakan antara
anak, siapa yang sanggup memberi jawaban seputar masalah aqidah akhlak,
intelektual anak, tetapi harus memperhatikan umur anak, biar juga diatas
kemampuan anak, karena berpengaruh pada pembentukan akhlak si anak.Selanjutnya
media yang dipergunakan dalam pendidikan Islam disesuaikan dengan metode yang
akan digunakan oleh pendidik dalam mengajar, media yang bisa digunkan antara
lain sebagai berikut:
Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif mengatakan keseluruhan metode diatas
bisa dihubungkan dengan alat teknologi dalam membantu pendidikan seperti MP3
hafalan Al-Qur’an, Vidio audio visual tentang pendidikan akhlak. Seterusnya Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif mengatkan bahwa, kaset, laptop, komputer, hal itu terbukti lebih
bagus bahasannya dari pada kawan-kawan lain dengan penelitian murid yang dididik
dengan metode dan media, dan media ini harus dipilih oleh pendidik, bukan
kesukaan anak langsung dibeli, karena tujuannya adalah untuk mendidik anak,
bukan untuk membuang-buang waktu atau memuaskan keinginannya anak-anak.
D. Kesimpulan
Metode dan media
dalam pendidikan islam mempunyai peranan penting sebab merupakan
jembatan yang menghubungkan pendidik dengan anak didik menuju kepada tujuan
pendidikan Islam yang terbentuknya kepribadian muslim yang ideal. Berhasil atau
tidaknya pendidikan Islam ini dipengaruhi oleh seluruh faktor yang mendukung
pelaksanaan pendidikan Islam ini
salah satunya melalui penggunaan metode dan media.
Seterusnya menurut Muhammad Bin Syakir
Asy-Syarif penggunan media itu
disesuaikan dengan pengunaan metode berbarengan, disini beliau juga mengatakan
sebaiknya penggunaan media/sarana dan prasarana yang bisa dipergunakan oleh pendidik
dalam mendidik, akan tetapi seorang pendidik bisa menggunakan, Mesjid, rumah
dan sekolah serta lingkungan[12],
juga halaman rumah sebagai media pendukung, namun media yang lebih canggih juga
diperbolehkan digunakan oleh guru dalam mendidik, seperti: Computer, LCD/OHP,
Tape rekorder, Radio, MP3, dan berbagai jenis media elektronik lainnya untuk
mendukung pembelajaran yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Mujib, Ilmu
Pendidikan Islam (Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008).
Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah
Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani, 1995).
Achmad Patoni. Metodologi Pendidikan agama Islam, (Bandung:
Mizan, 2005).
Direktur Jendral Lembaga, Pendidikan agama Islam, (Jakarta: Depag, 1987).
Djaja Sastra Yusuf, Metode-Metode Mengajar,(Bandung : Bumi Aksara,1982).
Mansyur dkk, Metodologi Pendidikan Agama, (Jakarta : Forum, 1986).
Muhaimin. M.A, Pengembangan kurikulum agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada,
2005).
Nana sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar
Nur Ubhiyati, Ilmu Pendidikan Islam II, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997).
[1] Muhaimin. M.A, Pengembangan kurikulum agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada,
2005), hlm 51
[2] Arti kata tarikat di ambil dari bahasa arab, yaitu
dari kata benda thariqah yang secara etimologis berarti jalan, metode atau tata
cara.
[3] Mansyur dkk, Metodologi Pendidikan Agama, (Jakarta : Forum, 1986), hlm 37.
[6] Djaja Sastra Yusuf, Metode-Metode Mengajar,(Bandung : Bumi Aksara,1982),hal 11
[7] Al-Qur’anul karim, surat
huud, ayat: 120
[8] Achmad Patoni. Metodologi Pendidikan agama Islam, (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 120
[9] Nana sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar…h.78
[10] Direktur Jendral Lembaga, Pendidikan
agama Islam, (Jakarta:
Depag, 1987), hlm. 59
[11] Ibid, hal 52.
[12] Abdurrahman An-Nahlawi,
Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani, 1995),
hlm.136-140
Tidak ada komentar:
Posting Komentar