Selasa, 14 Juli 2015

URGENSI METODE DAN MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Makalah



URGENSI METODE DAN MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Suatu Kajian terhadap gagasan Metode dan Media  Dalam  Pendidikan Islam
Dalam Kitab Nahwa Tarbiyah Islamiyah Rasyidah Tahun 2006
Oleh Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif
Halaman 45-56

D

I

S

U

                                                                                 S

U

N

 OLEH

OLEH
F a i s a l
NIM : 25131774-2


Dosen Pembimbing
Dr. Syabuddin Gade, M. Ag.







PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM BANDA ACEH
TAHUN 2015







Syukur Alhamdulillah dengan hidayah dan izin Allah SWT penulis telah dapat menyusun sebuah makalah yang sederhana ini dengan judul: URGENSI METODE DAN MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAMSuatu Kajian terhadap gagasan Urgensi Metode dan Media Dalam Pendidikan Islam Oleh Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif. Salawat beriringan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya ke alam berperadaban islami seperti yang kita rasakan sekarang.
Terima kasih penulis sampaikan kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah Studi Naskah, Dr. Syabuddin Gade, M. Ag. yang telah memberikan ilmu dan membimbing penulis dalam pembahasan makalah ini. Terima kasih juga kepada sahabat-sahabat Mahasiswa-(i) Kosentrasi Pendidikan Islam PPS UIN Ar-Raniry yang telah berpartisipasi aktif dalam pembahasan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Banda Aceh, 23 Januari 2015              
      Penulis



                           F A I S A L
NIM: 25131774-2











URGENSI METODE DAN MEDIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Suatu Kajian Terhadap gagasan Metode dan Media dalam Pendidikan Islam
Dalam Kitab Nahwa Tarbiyah Islamiyah Rasyidah Tahun 2006
Oleh Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif
(Halaman 45-56)

A.  Pendahuluan
Metode dan media dalam pendidikan islam mempunyai peranan penting sebab merupakan jembatan yang menghubungkan pendidik dengan anak didik menuju kepada tujuan pendidikan Islam yang terbentuknya kepribadian muslim yang ideal. Berhasil atau tidaknya pendidikan Islam ini dipengaruhi oleh seluruh faktor yang mendukung pelaksanaan pendidikan Islam ini salah satunya melalui penggunaan metode dan media.
Apabila timbul permasalahan di dalam Pendidikan Islam khususnya dalam pemilihan penggunaan metode dan media, maka kita harus dapat mengklasifikasikan masalah yang kita hadapi itu ke dalam faktor-faktor yang ada. Apabila seluruh faktor telah dipandang baik terkecuali faktor metode dan  media, maka kitapun harus pandai memperinci dan mengklasifikasikan ke dalam klasifikasi masalah metode pendidikan yang lebih kecil dan terperinci lagi. Misalnya dalam segi apa dari masalah metode dan/atau alat apa? Memang masalah metode ini sangat penting, karena itulah Rasulullah mengajarkan kemampuan dan perkembangan anak didik.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif Mengelompokkan metode dan media kedalam beberapa jenis, sebagai berikut: metode kisah nyata, metode bermain, praktek langsung, metode adat/kebiasaan, metode contoh teladan, metode perlombaan/musabaqah, seterusnya media itu disesuaikan dengan pengunaan metode, disini beliau juga mengupas tentang hal media/sarana dan prasarana yang bisa dipergunkan oleh pendidik dalam mendidik, akan tetapi seorang pendidik bisa menggunakan, Mesjid, rumah dan juga halaman rumah sebagai media pendukung, namun media yang lebih canggih juga diperbolehkan digunakan oleh guru dalam mendidik, seperti: Computer, LCD/OHP, Tape rekorder, Radio, MP3, dan berbagai jenis media elektronik lainnya untuk mendukung pembelajaran yang lebih baik.
Metode pendidikan Islam di sini adalah jalan, atau cara yang dapat ditempuh untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam kepada anak didik agar terwujud kepribadian muslim. Alat pendidikan Islam yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Metode dan alat pendidikan Islam yaitu cara dan segala apa saja yang dapat digunakan untuk menuntun atau membimbing anak mulai dalam masa pertumbuhannya agar kelak menjadi manusia berkepribadian muslim yang diridai oleh Allah. Fungsi Metode dan media dalam dunia Pendidikan Islam untuk mengarahkan keberhasilan belajar, pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan. Dengan demikian jelaslah bahwa urgensi pengaplikasian metode dan media amat berfungsi bagi penyampaian tujuan pendidikan Islam.

B.  Kandungan Isi Teks
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan bahwa untuk lebih jelasnya tentang pengertian dan urgensi pengaplikasian metode dan media dalam pendidikan Islam mari kita melihat, metode disini bermakna tariqat atau jalan untuk mencapai sebuah tujuan, adapun tujuan yang hendak dicapai disesuaikan dengan konteks yang hendak dibahas, begitu juga media, media merupakan sumber pendukung atau sebagai jembatan untuk menghubungkan guru dan anak didik dalam pembelajaran.
Seterusnya Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menyebutkan bahwa: Rasul sudah mengimplementasikan berbagai metode dalam pendidikan Islam, sedangkan sarana-prasarana/media pendidikan pada masa tersebut disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada pada masa tersebut termasuk pengembangan media.
Lebih lanjut Beliau  mengatakan inti yang pertama bagi seorang guru pada setiap saat sebelum mengajar perlu menyiapkan berbagai metode dan sarana yang membantunya dalam mengajar, yang kedua tahapan belajar sianak itu harus dilatih dengan hafalan dengan metode berulang-ulang, beda dengan orang dewasa.  Selanjutnya Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  akan mengulas dan mengupas beberapa metode pendidikan Islam yang bisa digunakan oleh seorang guru dalam mendidik, antaara lain sebagai berikut:

1.      Metode kisah nyata
Dalam mendidik si anak, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan lebih bagus mendidik sianak dengan kisah nyata, karena isi dari kisah menjadikan mereka terpana, rasa ingin mendengar kembali, dan alangkah banyak kisah-kisah nyata, cukup untuk mendidik anak dari segi kejujuran, amanah, mengerjakan kewajiban, keberanian, menolong orang yang membutuhkan, sayang kepada orang miskin, menghargai orang dewasa dan lain-lain.
Dalam hal ini Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan bagi pendidik bisa mengambil kisah-kisah nyata yang banyak manfaat dari buku-buku biografi, karena dari buku biografi banyak kisah-kisah nyata yang cukup untuk mendidik  sang anak, seperti peperangan Nabi, biografi para sahabat, mengisahkan tentang panglima peperangan.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menjelaskan bahwa orang-orang terdahulu selalu mendidik anak dengan kisah-kisah rasul. Seperti yang telah dilakukan oleh Ali Bin Husen  “Dari Ali Bin Husein kami bercerita kepada anak-anak kami tentang peperangan Nabi Muhammad, seperti kami menjelaskan satu surat Al-Qur’an”. Inti cerita untuk merealisasikan dalam kenyataan-bukan hanya untuk sekedar dihayalkan di renungi.
Lebih lanjut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menyebutkan bahwa: Allah dan Nabi menggunakan metode kisah di dalam Al-Qur’an dan Hadits yang didalam nya terkandung hal-hal pendidikan. Nabi bercerrita Kepada Aisyah. Bagaimana hubungan istri-istri terdahulu dengan suami. Misal kaum Bani Israil. Itu semua untuk mendidik, seperti dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 111:
ôs)s9 šc%x. Îû öNÎhÅÁ|Ás% ×ouŽö9Ïã Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# 3 $tB tb%x. $ZVƒÏtn ....2uŽtIøÿムÇÊÊÊÈ  
Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Menurut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif,  inti dari pada ayat diatas untuk digunakan seorang pendidik dalam mendidik. Kadang-kadang seorang pendidik menggunakan kisah yang belum terjadi, namun hal itu bagaimana dapat meningkatkan minat dari anak didik sehingga secara tidak langsung dapat ditanamkan agama dalam hati mereka seperti perkara Aqidah, Akhlak, tingkah laku yang tidak nyata.
Seterusnya Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  memaparkan tentang keberadaan kisah tentang akhlak yang tidak Islam ataupun yang menyelisih akidah Islam harus dijauhkan, walaupun menarik minat sianak dalam belajar, dan tidak boleh ditoleransi dalam hal ini dengan mengatakan: kita ambil yang baik dan yang buruk menjelaskan kepada sianak untuk tidak meniru atau mengambil, sabab saat anak belum mencapai umur (mumayyiz), dan tidak benar jika diajarkan hal-hal yang tidak benar. Karena akan membuat dia terombang ambing.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  juga mengatkan bahwa tidak boleh bercerita kepada anak-anak kisah-kisah yang berbau khurafat atau cerita-cerita hayalan yang tidak nyata. Seperti kisah seorang manusia masuk dalam perut burung, untuk menjadi mata-mata, padahal tidak ada. Kisah tidak benar, Ada akhlak yang buruk dan iri bertentangan dengan Firman Allah, kemudian menjauhkan dari kenyataan. Adapun kisah nyata yang tidak terjadi dan bukan khurafat, namun kemungkinan bisa terjadi ini, bisa saja diambil dengan tetap menjaga norma-norma Islam. Media Yang bisa digunakan dalam menggunakan metode kisah nyata, yaitu berupa komputer dan infokus, kemudian bisa juga menggunakan MP3, Selanjutnya bisa juga menggunakan buku-buku yang relevan dengan kisah-kisah menarik dalam Islam.

2.      Metode mendidik anak dengan bermain.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif mengatakan penggunaan metode bermain, hal yang paling utama dapat membahagiakan/menyenangkan jiwa sang anak, jangan hanya bermain semata, tetapi mengandung unsur pendidikan, guna membangun karakteristik sang anak pada segala aspek, menguatkan badan, membuka cakrawala berpikir sianak, seperti hubungan dengan masyarakat, melaksanakan gotong royong bersama,, dalam hal ini membuat anak, sabar dalam menjalankan tugas, dulu para sahabat, memainkan anak supaya tahan lapar ketika berpuasa, kalau sudah lapar, anak nangis dikasih mainan, agar hilang rasa lapar.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menyebutkan di dalam kitabnya bahwa;
“Berkata oleh Rabi’ bin Muawwad: Kami berpuasa dan anak kami berpuasa, kami menciptakan sebuah mainan untuk anak-anak kami, kalau dia lapar, kamikasih mainan, Kemudian Ibnu Hajar berkata: Itu dibolehkan untuk digunakan mendidik sianak. Jadi siapa yang tidak kasih mainan untuk anak, bahkan dilarangyang tidak kasih mainan untuk anak.
Lebih lanjut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menegaskan apalagi permainan yang mengandung peningkatan karakteristik islam, tidak boleh dilupakan, walaupun kadang-kadang tidak bagus permainan itu, tetatpi ada unsur mendidiknya, dan yang penting juga keselamatan jiwa anak-anak pada permainan yang menyia-nyiakan waktudan tidak mengganggu kegiatan atau rutinitas hari anak-anak. Kadang permainan harus hati-hati kita ambil seperti mainan computer, mempengaruhi waktu dan kesehatan, kemudian membuat dia malas, lalai, boleh pakai computer tetapi harus terjaga, karena sebagian dari isi computer bertentangan dengan syariat.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif mengatakan sebagian permainan tidak mungkin dibuat di rumah karena perlu tempat luas, dan pastinya memerlukan halaman (lapangan), tentu dibawah bimbingan seorang pendidik, karena kita tidak mengetahui ketika tidak ada pendidik bersama,  Seperti kisah Yusuf, waktu anak Nabi Yaqub bermain, tidak hadir Nabi Yaqub, rupanya ada rencana jahat dari anak-anaknya terhadap Nabi Yusuf, Sebagaimana Dalam Al-Qur’an dikisahkan dalam Surat Yusuf Ayat 12:
ã&ù#Åör& $oYyètB #Yxî ôìs?ötƒ ó=yèù=tƒur $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»yss9 ÇÊËÈ  
Artinya:  “Biarkanlah Dia pergi bersama Kami besok pagi, agar Dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan Sesungguhnya Kami pasti menjaganya”.
Menurut pandangan Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif inti dari ayat diatas  Anak-anak kadang-kadang salah penggunaan bahasa yang dibiasakan dan jangan dibuat bahan candaan itu sikap salah, tapi dibenarkan bahan kalimat tersebut, itu tugas seorang pendidik, membetulkan bahasa tersebut sampai benar. Misal lafaz/bahasa sedikit tidak menjadi masalah dan tidak lewat umur 4, 5 tahun dan kalau kalimat banyak lebih umur tersebut berarti ada kelainan pada anak, maka dibawa ke dokter yang ahli menobati masalah anak. Media yang bisa digunakan seiring dengan metode bermain seperti: Computer, LCD/OHP, Tape rekorder, Radio, MP3, dan berbagai jenis media elektronik lainnya untuk mendukung pembelajaran yang lebih baik.

3.      Metode praktek langsung/Lapangan.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menjelaskan bahwa orang banyak menyangka yang namanya percobaan harus di dalam laboratorium, untuk memulai dan menetapkan sebuah hal yang ilmiah, padahal bukan seperti itu, itu merupakan sebuah dugaan yang salah. Kisah orang-orang terdahulu, telah ada praktek percobaan yang di didik kepada anak-anak bahwa bersatu adalah sumber kekuatan, ibarat lidi, kemudian anak-anak dari itu anak-anak bisa mengambil kesimpulan yang berupa sebab:
1)      Menanamkan pada diri seorang anak bahasa kesatuan sumber kekuatan
2)      Seorang yang lemah bisa kuat, jika berkumpul dengan saudara-saudaranya.
3)      Membiasakan anak dalam mengambil pelajaran dari apa yang terjadi disekitar anak-anak mereka. Seorang pendidik, cara seperti ini  yang harus digunakan, tetapi arus jauh dari hal-hal yang berbahaya. Karena anak-anak akan mengulang-ngulang praktek itu, sehingga tidak berbahaya bagi dia.

4.      Metode adat/kebiasaan
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan untuk membiasakan sesuatu, yang membiasakan itu tentu oleh guru, untuk menumbuhkan sifat baik pada diri anak, sehingga sudah terbiasa, tidak susah lagi untuk dikerjakan oleh karena itu suatu tingkah laku, diubah menjadi suatu adat kebiasaan, ini adalah sarana yang paling penting dalam mendidik dan menumbuhkan usaha berkelanjutan dari seorang pendidik dalam mengubah sikap menjadi kebiasaan, dan dengan cara diulang oleh guru, sehingga ia mengerjakan dalam kebiasaan hari-harinya. Lebih lanjut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menguatkan di dalam kitabnya dengan pendapat Ibnu Mas’ud berkata: janganlah anak-anak kalian dalam shalat dan ajarkanlah mereka kebaikan karena kebaikan adalah kebiasaan, kisah dulu, para istri membawa anak-anak ke Mesjid, Rasulullah meringankan shalat. Media yang bisa digunakan berupa halaman rumah, bisa juga digunakan komputer dan infokus, serta berbagai macam media yang relevan untuk kebutuhan yang mau dipraktekkan oleh guru dan anak didik.

5.      Metode mendidik dengan contoh teladan
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menganjurkan bagi pendidik untuk mendidik secara langsung dari murabbi/pendidik kepada murid seperti kebiasaan jujur dihadapan anak-anak. Kemudian Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mempertegas argumennya dengan mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i, sebagai berikut: “Berkata Imam Syafi’i meningatkan Abu Abdissamad yang mengajarkan anak Harun ar-Rasyid, Anda perbaiki diri sendiri dulu sebelum memperbaiki anak-anak Harun ar-Rasyid, karena mata-mata anak itu akan melihat dengan sikap dan mata, sehingga yang baik pada anda akan diambil pelajaran oleh anak, begitu juga sebaliknya”. Intinya seandainya sikap pendidik jujur, lebih berpengaruh dalam mendidik anak. Praktikum dari seorang guru walau dalam perkembangan dunia, misal disiplin pada lampu merah. Seandainya melihat gurunya menolong orang buta di jalanan. Intinya guru itu merupakan teladan bagi anak didiknya.Media yang bisa digunakan seperti: memberikan teladan guru kepada anak didik baik di alam terbuka seperti di Mesjid, Menasah, atau di Jalan Raya, Media disini bisa juga ditambah seperti: Komputer, Tape rekorder, Radio, MP3, dan berbagai jenis media elektronik lainnya untuk mendukung pembelajaran baik ketika berada di sekolah atau diluar sekolah.

6.      Metode mendidik dengan perlombaan/musabaqah
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan metode ini, metode yang paling sukses dan ini diadakan antara anak, siapa yang sanggup memberi jawaban seputar masalah aqidah akhlak, intelektual anak, tetapi harus memperhatikan umur anak, biar juga diatas kemampuan anak, karena berpengaruh pada pembentukan akhlak si anak. Kemudian Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan, tetapi soal yang sesuai dengan umur anak ini banyak berfaedah, salah satunya dia merasakan ada kemampuan untuk menjawab soal, kemudian kemampuan dalam memahami belajar dan mengambil kebaikan. Lebih menambah keoptimisan seorang anak dalam belajar dibanding soal yang tidak dapat dijangkau oleh kemampuan sianak, caranya sebelum memberi soal, menjelaskan dengan cerita dulu apa sianak memahami baru menjawab.
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan seperti penjelasan sebatang pohon kayu, sebagai berikut:
1.      Seperti pohon kayu, seperti layak seorang muslim, apa pohon itu? Ditanyak pada sahabat, ditebak-tebak pohon kurma? Akarnya kuat, namun batang/tubuh kuat, daunnya mengembang (amalan banyak)
2.      Diatas umur anak-anak tidak berfaidah yang ada bimbang arah
3.      Tidak efesien waktu
Dalam hal penggunaan media dalam mendidik, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan keseluruhan metode diatas bisa dihubungkan dengan alat teknologi dalam membantu pendidikan seperti MP3 hafalan Al-Qur’an, Vidio audio visual tentang pendidikan akhlak. Seterusnya Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatkan bahwa, kaset, laptop, komputer, hal itu terbukti lebih bagus bahasannya dari pada kawan-kawan lain dengan penelitian murid yang dididik dengan metode dan media, dan media ini harus dipilih oleh pendidik, bukan kesukaan anak langsung dibeli, karena tujuannya adalah untuk mendidik anak, bukan untuk membuang-buang waktu atau memuaskan keinginannya anak-anak.  Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  menyarankan untuk pengajaran Penting sekali ada sebuah yayasan pendidikan yang menghasilkan media-media belajar yang bagus, jadi media yang ada itu dibuat atau dirancang bukan untuk kepentingan pribadi pendidik tapi untuk kepentingan masyarakat demi kemaslahan semua warga sekolah maupun umum.



C.  Analisis Kritis Terhadap Metode dan Media Dalam Pengembangan Pendidikan islam
Dalam Konteks Pendidikan Islam, “karakteristik guru selalu tercermin dalam aktivitasnya sebagai murabbiy, mua’allim, mudarris dan mu’addib.”[1] Dari beberapa isitilah pendidik diatas mengisyaratkan, bahwa pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan dan kematangan aspek jasmani dan rohani dan spritual seseorang. Pendidik itu bisa saja orang tua dari si terdidik itu sendiri, atau orang lain yang telah diserahi tanggung jawab oleh orang tua.
Mengutip kandungan isi teks paragraf pertama pandangan Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif dalam makalah ini metode disini bermakna tariqat[2], atau jalan untuk mencapai sebuah tujuan, adapun tujuan yang hendak dicapai disesuaikan dengan konteks yang hendak dibahas, begitu juga media, media merupakan sumber pendukung atau sebagai jembatan untuk menghubungkan guru dan anak didik dalam pembelajaran. Metode merupakan suatu cara yang digunakan dalam mengajar agar tercapainya tujuan pengajaran. Selanjutnya Mansyur, dkk  mengemukakan : “Metode mengajar adalah cara yang dipergunakan dalam menyajikan bahan pelajaran yang memperhatikan keseluruhan situasi belajar untuk mencapai tujuan”.[3]
Bahwa makna metode adalah tariqat atau jalan untuk mencapai sebuah tujuan, menurut penulis sependapat dengan pandangan beliau karena metode adalah salah satu cara yang ditempuh oleh guru dalam mendidik untuk mencapai tujuan secara efektif, hal ini juga sama seperti yang disampaikan oleh Nur Ubhiyati, sebagai berikut: metode artinya suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.[4] Lebih lanjut Abdullah Mujib juga mengatakan bahwa: Tugas utama metode pendidikan Islam adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar anak mengetahui, memahami, menghayati, dan meyakini materi yang diberiakan, serta meningkatkan ketrampilan olah pikir.[5]
Dalam penggunaan metode pendidikan islam yang perlu dipahami adalah bagaiman seseorag pendidik dapat memahami hakikat metode dalam relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah swt. Sebagimana yang disampaikan oleh Djaja Sastra  Yusuf, dalam mengunakan metode mengajar harus di perhatikan beberapa hal :
1        Metode mengajar yang digunakan harus dapat meningkatkan motif, minat dan gairah belajar anak.
2        Metode mengajar  yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian anak.
3        Metode mengajar yang  digunakan  harus dapat memberikan kesempatan bagi ekspresi yang relatif  bagi  kepribadian murid.
4        Metode yang digunakan harus dapat merangsang keinginan murid untuk  belajar lebih lanjut melakukan eksplorasi dan inovasi
5        Metode mengajar harus dapat mendidik dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoeh  pengetahuan melalui usaha pribadi.
6        Metode mengajar harus dapat membedakan pengajaran yang bersifat verbalitas dan menggantikannya dengan pengalaman atau situasi yang nyata.
7        Metode mengajar yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai dan sukap utama  yang diharapkan dalam keberhasilan cara kerja yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
8          Metode mengajar yang digunakan harus dapat membimbing murid agar akhirnya berdiri sendiri  atau tanggunga jawab sendiri.[6]
Dengan demikian agar pencapaian tujuan pengajaran dapat berhasil secara optimal  maka  guru harus mampu menggunakan metode pengajaran yang tepat, sehingga kesesuaian antara metode mengajar dengan yang diajarkan dapat mengaktifkan kemampuan afektif, kognitif dan psikomotor anak.
Tujuan penggunaan metode adalah menjadikan proses dan hasil belajar mengajar ajaran Islam lebih berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran peserta didik untuk  mengamalkan ketentuan ajaran islam melalui metode yang menimbulkan gairah belajar peserta didik secara efektif. Uraian itu menunjukkan bahwa fungsi metode pandidikan Islam adalah mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan kepada peserta didik untuk belajar berdasarkan minat, serta mendorong usaha kerja sama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik. Di samping itu, dalam uaraian tersebut ditunjukkan bahwa fungsi metode pendidikan adalah memberi inspirasi pada peserta didik melalui proses hubungan yang serasi antara pendidik dan peserta didik, serta meningkatkan kesadaran belajar peserta didik untuk lebih taqwa Sang Khaliq. Kemudian mengutip pendapat pandangan Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif dalam paragraf yang kedua seorang pendidik dalam mendidik dapat menggunakan beberapa metode dalam mengajar, antara lain sebagai berikut:
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan mendidik sianak dengan metode kisah nyata, karena isi dari kisah menjadikan mereka terpana, rasa ingin mendengar kembali, dan alangkah banyak kisah-kisah nyata, cukup untuk mendidik anak dari segi kejujuran, amanah, mengerjakan kewajiban, keberanian, menolong orang yang membutuhkan, sayang kepada orang miskin, menghargai orang dewasa dan lain-lain.
Seorang pendidik dalam mengajar yang pertama bisa menggunakan metode kisah nyata, berkaitan dengan penggunaan metode ini penulis setuju apabila metode ini diterapkan dalam pembelajaran, karena di dalam Al-Qur’an juga tentang urgensi penggunaan metode kisah dalam mendidik, sebagaimana terdapat dalam surat hud, ayat 20, sebagai berikut:
yxä.ur Èà)¯R y7øn=tã ô`ÏB Ïä!$t6/Rr& È@ߍ9$# $tB àMÎm7sVçR ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù 4 x8uä!%y`ur Îû ÍnÉ»yd ,ysø9$# ×psàÏãöqtBur 3tø.ÏŒur tûüÏYÏB÷sßJù=Ï9 ÇÊËÉÈ  

Artinya: “dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.[7]
Inti dari pada ayat diatas metode kisah dalam pendidikan islam terutama pendidikan agama islam sangatlah penting, hal itu salah satunya dikarnakan kisah selalu memikat karena mengundang pembaca atau pendengar untuk mengikuti peristiwanya, dan merenungi maknanya. Alangkah baiknya menurut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif apabila mendidik dengan metode ini, beliau menganjurkan para pendidik bisa mengambil kisah-kisah nyata yang banyak manfaat dari buku-buku biografi, karena dari buku biografi banyak kisah-kisah nyata yang cukup untuk mendidik  sang anak, seperti peperangan Nabi, biografi para sahabat, mengisahkan tentang panglima peperangan.
Selanjutnya metode yang kedua yaitu mendidik dengan menggunakan metode bermain, penulis setujua penggunaan metode ini dalam mendidik, sebagaimana pendapat Ahmad Fathoni, sebagai berikut: Metode ini merupakan bentuk pendidikan dengan menduplikasikan bagian-bagian peting dalam bentuk yang sesungguhnya kedalam bentuk permainan.[8] Lebih lanjut metode bermain/simulasi merupakan cara menjelaskan sesuatu mellaui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain peranan mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan yang sebanarnya[9]
Bentuk dari permaianan simulasi ada beberapa macam antara lain : peer teaching (latihan mengajar oleh siswa kepada teman-teman calon guru), sosiodrama, psikodrama, simulasi game, role playing. Metode ini merupakan metode yang dipakai jika seorang guru bertujuan unutk melatih siswa berbaur dalam masyarakat dengan berbagai problematikanya. Sehingga siswa belajar untuk bertindak dan bertingkah laku dalam situasi sosial tertentu. Dalam pendidikan agama metode ini sangat cocok digunakan untuk menanamkan akhlakul karimah dalam diri siswa.
Metode yang ketiga dikatakan oleh Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  adalah dengan menggunakan metode praktek langsung/lapangan,  menurut beliau kisah orang-orang terdahulu, telah ada praktek percobaan yang di didik kepada anak-anak bahwa bersatu adalah sumber kekuatan, ibarat lidi, kemudian anak-anak dari itu anak-anak bisa mengambil kesimpulan yang berupa sebab:
1)      Menanamkan pada diri seorang anak bahasa kesatuan sumber kekuatan
2)      Seorang yang lemah bisa kuat, jika berkumpul dengan saudara-saudaranya.
3)      Membiasakan anak dalam mengambil pelajaran dari apa yang terjadi disekitar anak-anak mereka.
Metode ini biasanya dipakai untuk materi-materi yang bersifat motoris dan keterampilan. Metode ini digunakan untuk memeperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan yang biasanya memerlukan latihan secara terus-menerusterhadap suatu bahan pelajaran. Hasil dari metode ini adalah menambah daya fikir atau daya ingat serta bertambahnya pengetahuan atau pemahaman siswa [10]
Yang keempat metode adat/kebiasaan, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan untuk membiasakan sesuatu, yang membiasakan itu tentu oleh guru, untuk menumbuhkan sifat baik pada diri anak, sehingga sudah terbiasa, tidak susah lagi untuk dikerjakan oleh karena itu suatu tingkah laku, diubah menjadi suatu adat kebiasaan. Metode ini juga cocok untuk diterapkan oleh pendidik dalam mengajar.
Yang kelima metode contoh teladan, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan Intinya sikap pendidik jujur, lebih berpengaruh dalam mendidik anak. Praktikum dari seorang guru walau dalam perkembangan dunia, misal disiplin pada lampu merah. Seandainya melihat gurunya menolong orang buta di jalanan. Intinya guru itu merupakan teladan bagi anak didiknya. Bagaimana seorang guru bisa mempraktekkannya, lalu anak akan meniru mencontoh apa yang dilihat oleh sianak dalam kehidupan gurunya dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai macam aktivitas baik di sekolah maupun luar sekolah, sebagaimana yang disampaikan oleh Ramli Maha, sebagai berikut: Pendekatan keteladanan ini beranjak dari asumsi bahwa belajar melalui peniruan terhadap manusia lain (social learning) adalah sangat penting dalam Pembelajaran. peniruan ini menurut Bendura dalam Ramli Maha mengatakan: “Peniruan dapat berlangsung dalam beberapa cara, yaitu ; (1) menyerap nilai-nilai dari orang lain ; (2) belajar dari keberhasilan orang lain ; dan (3) belajar dari kegagalan orang lain (untuk dihindarinya)”. Keteladanan ini ada yang langsung (orangnya) dan yang tak langsung (kisah/ceritanya).[11]
Metode yang terakhiratau yang ke enam metode perlombaan/musabaqah, Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan metode yang paling sukses dan ini diadakan antara anak, siapa yang sanggup memberi jawaban seputar masalah aqidah akhlak, intelektual anak, tetapi harus memperhatikan umur anak, biar juga diatas kemampuan anak, karena berpengaruh pada pembentukan akhlak si anak.Selanjutnya media yang dipergunakan dalam pendidikan Islam disesuaikan dengan metode yang akan digunakan oleh pendidik dalam mengajar, media yang bisa digunkan antara lain sebagai berikut:
Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatakan keseluruhan metode diatas bisa dihubungkan dengan alat teknologi dalam membantu pendidikan seperti MP3 hafalan Al-Qur’an, Vidio audio visual tentang pendidikan akhlak. Seterusnya Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  mengatkan bahwa, kaset, laptop, komputer, hal itu terbukti lebih bagus bahasannya dari pada kawan-kawan lain dengan penelitian murid yang dididik dengan metode dan media, dan media ini harus dipilih oleh pendidik, bukan kesukaan anak langsung dibeli, karena tujuannya adalah untuk mendidik anak, bukan untuk membuang-buang waktu atau memuaskan keinginannya anak-anak.

D.  Kesimpulan
Metode dan media dalam pendidikan islam mempunyai peranan penting sebab merupakan jembatan yang menghubungkan pendidik dengan anak didik menuju kepada tujuan pendidikan Islam yang terbentuknya kepribadian muslim yang ideal. Berhasil atau tidaknya pendidikan Islam ini dipengaruhi oleh seluruh faktor yang mendukung pelaksanaan pendidikan Islam ini salah satunya melalui penggunaan metode dan media.
Seterusnya menurut Muhammad Bin Syakir Asy-Syarif  penggunan media itu disesuaikan dengan pengunaan metode berbarengan, disini beliau juga mengatakan sebaiknya penggunaan media/sarana dan prasarana yang bisa dipergunakan oleh pendidik dalam mendidik, akan tetapi seorang pendidik bisa menggunakan, Mesjid, rumah dan sekolah serta lingkungan[12], juga halaman rumah sebagai media pendukung, namun media yang lebih canggih juga diperbolehkan digunakan oleh guru dalam mendidik, seperti: Computer, LCD/OHP, Tape rekorder, Radio, MP3, dan berbagai jenis media elektronik lainnya untuk mendukung pembelajaran yang lebih baik.


















DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Mujib,  Ilmu  Pendidikan Islam (Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008).
Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani, 1995).
Achmad Patoni. Metodologi Pendidikan agama Islam, (Bandung: Mizan, 2005).
Direktur Jendral Lembaga, Pendidikan agama Islam, (Jakarta: Depag, 1987).
Djaja Sastra Yusuf, Metode-Metode Mengajar,(Bandung : Bumi Aksara,1982).
Mansyur dkk, Metodologi Pendidikan Agama, (Jakarta : Forum, 1986).
Muhaimin. M.A, Pengembangan kurikulum agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2005).
Nana sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar
Nur Ubhiyati, Ilmu Pendidikan Islam II, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997).







[1] Muhaimin. M.A, Pengembangan kurikulum agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2005), hlm 51
[2] Arti kata tarikat di ambil dari bahasa arab, yaitu dari kata benda thariqah yang secara etimologis berarti jalan, metode atau tata cara.


[3] Mansyur dkk, Metodologi Pendidikan Agama, (Jakarta : Forum, 1986), hlm 37.

[4] Nur Ubhiyati, Ilmu Pendidikan Islam II, (Bandung : CV. Pustaka Setia, 1997), hlm. 99

[5] Abdullah Mujib,  Ilmu  Pendidikan Islam (Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008), hlm. 167

[6] Djaja Sastra Yusuf, Metode-Metode Mengajar,(Bandung : Bumi Aksara,1982),hal 11

[7] Al-Qur’anul karim, surat huud, ayat: 120

[8] Achmad Patoni. Metodologi Pendidikan agama Islam, (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 120

[9] Nana sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar…h.78

[10] Direktur Jendral Lembaga, Pendidikan agama Islam, (Jakarta: Depag, 1987), hlm. 59

[11] Ibid, hal 52.

[12] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani, 1995), hlm.136-140

Tidak ada komentar:

Posting Komentar