Kamis, 16 Juli 2015

URGENSI SAYANG DALAM ISLAM SEBAGAI FITRAH


Kemajuan dan kemunduran sikap umat manusia dalam konteks kekinian menjadi problem tersendiri dikalangan umat manusia terutama dalam masyarakat muslim baik di lingkungan lembaga pendidikan dan masyarakat luas mulai yang muda sampai yang tua, Kemerosotan moral sudah sangat menghawatirkan akhir-akhir ini. Nilai- nilai keadilan, kejujuran, kebenaran, tolong-menolong, dan kasih sayang seolah sudah menjadi barang mahal. Sebaliknya, yang mucul adalah tindakan penyelewengan, penipuan, penindasan, saling menjegal, saling  merugikan, adu  domba, fitnah,  mengambil  hak-hak  orang  lain,  dan  perbuatan-perbuatan maksiat lainnya.
Fenomena di atas juga mewarnai dunia pendidikan kita. Sejumlah pelajar dan lulusan pendidikan menunjukkan sikap yang tidak terpuji. Banyak pelajar dan mahasiswa yang terlibat tawuran, tindak kriminal, pencurian, penodongan, penyimpangan seksual, terlibat narkoba, dan tindak kriminal lainnya. Bahkan di kalangan pelajar pun, peristiwa tawuran kerap terjadi. Aksi demonstrasi yang memprotes kebijakan tidak cuma terjadi di kampus-kampus, tetapi juga terjadi di lingkungan pelajar tingkat atas bahkan pelajar tingkat sekolah dasar yang kadangkala di akhiri dengan tindakan kekerasan. Perbuatan tidak terpuji tersebut telah meresahkan masyarakat.
Meskipun tingkah laku tidak terpuji tersebut hanya dilakukan oleh sebagian pelajar dan mahasiswa, tetapi tak pelak hal itu telah mencoreng kredibilitas dunia pendidikan saat ini. Potret buram  pendidikan  itu  akhirnya  makin  menurunkan  kepercayaan  masyarakat  terhadap  dunia pendidikan.


  1. Makna Kasih Sayang
Dewasa ini sering kali dalam khalayak ramai mengekspresikan kasih sayang dengan berbagai macam cara, kacamata dan sudut pandang, semua itu tidaklah menjadi problem yang melunturkan nilai-nilai-kasih sayang, walaupun berbeda umur, masa dan kondisi semua makhluk di dunia ini menginginkan kasih sayang, akan tetapi untuk memaknai kasih sayang yang benar dalam hidup mengahadapi dinamika kasih sayang, menurut penulis kiranya para pembaca yang budiman, mari sama-sama untuk melihat kembali sekilas mengenai makna kasih sayang menurut pendapat para ahli dan dalam kacamata Islam. Dengan demikian aktivitas dan tindakan dalam implementasi kasih sayang sesama manusia dan alam sekitarnya menjadi rahmatal lil’alamin.
Sebagaimana diungkapkan Oleh Abdullah Nashih Ulwan (1996:1), kasih sayang dapat diartikan kelembutan hati dan kepekaan perasaan sayang terhadap orang lain. M. Quraisy syihab, (2000:25), menyebutkan Dalam Al-Qur`an, kasih sayang dipresentasikan dalam kata Ar-Rahmah (kasih sayang). Kasih sayang merupakan sifat Allah yang paling banyak diungkapkan dalam al-Qur`an dalam bentuk kata yang berbeda yaitu Ar-Rahman yang biasanya dirangkaikan dengan kata Ar-Rahim yang berarti pengasih dan penyayang yang menunjukkan sifat-sifat Allah. Kata rahman dan rahim merupakan sifat Allah yang paling banyak diungkapkan dalam Al-Quran, yaitu sebanyak 114 kali.
Selanjutnya Menurut Jalaluddin, (2002:214), penyebutan sebanyak itu bermakna bahwa Allah memberikan kepada manusia sifat-sifat-Nya sendiri untuk menjadi potensi yang dapat dikembangkan. Kemudian dalam hubungannya dengan sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang ini, Allah memerintahkan agar manusia bersifat pengasih dan penyayang, jika mereka ingin memperoleh kasih sayang dari Allah.
Baik Ar-Rahman maupun Ar-Rahim pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, akan tetapi Ar-Rahman cenderung pada sifat kasih sayang Allah di akhirat, sedangkan Ar-Rahim cenderung pada sifat kasih sayang Allah di dunia. Selain itu ada bentuk kata lain dalam Al-Quran yang mempunyai arti kasih sayang yaitu Mahabbah, Ar-rahmah dan mawaddah. Mahabbah merupakan bentuk kata yang berasal dari kata hubb yang artinya cinta atau mencintai, baik dalam konteks ke-Tuhanan (cinta Allah kepada makhluk- Nya dan cinta makhluk kepada Allah), maupun konteks kemanusiaan.
Sedangkan Ar-rahmah dan mawaddah, keduanya memiliki arti yang sama, yaitu kasih sayang, namun Ar-rahmah cenderung pada kasih sayang yang bersifat ukhrawi, sedangkan mawaddah cenderung pada kasih sayang yang bersifat duniawi. Sedangkan dalam Asmaul Husna, banyak sekali nama-nama Allah yang menunjukkan sifat- sifat kasih sayang sayang-Nya, antara lain Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Latif, Al-Hakim, dan Al-Ghafur. Semuanya memiliki arti yang berbeda secara lughawi namun secara ma`nawi memiliki arti yang sama, yaitu menunjukkan sifat-sifat kasih sayang Allah. Baik secara umum maupun dalam Islam, tidak ada definisi yang baku tentang kasih sayang. Yang ada hanya contoh- contoh praktis tentang sifat kasih sayang ini. Barangkali ini merupakan sebuah seruan untuk terjun langsung dalam dataran praksis, bukan hanya sekedar teoritis.
Lebih lanjut, dasar kasih sayang merupakan salah satu sifat mulia yang ditanamkan Allah kepada manusia, dan karena sifat inilah Allah akan mengampuni dosa manusia yang mau bertaubat dengan sungguh- sungguh sebagai wujud kasih sayangnya. Firman Allah:

                            

Artinya: Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Kepunyaan Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman”. (Al-Qur’an: Al-An’am: ayat 12).


  1. Kasih Sayang Sebagai Fitrah
Diketahui Kasih Sayang merupakan kebutuhan setiap makhluk diatas bumi ini, sebagaimana dijabarkan oleh Jalaluddin, (2002: 234), Semua makhluk ciptaan Allah di dunia ini  memiliki  kondisi  dan potensi masing-masing. Begitu juga manusia, dalam kapasitasnya sebagai makhluk yang paling sempurna dengan akal, perasaan, dan nafsu yang dimilikinya. Manusia     adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang mampu mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Allah dan menjadikan adanya sejarah. Selain itu manusia juga makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua   pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan sebagai makhluk.
Di satu sisi, manusia merupakan  puncak ciptaan dan makhluk  Allah yang paling tinggi derajat, yang memiliki keistimewaan dengan status dan tanggung jawabnya sebagai khalifah Allah di bumi, manusia merupakan makhluk yang paripurna yang diberikan porsi akal padanya untuk selalu bertadabbur dan bertafakkur menuju insan kamil. Atas dasar itu manusia dipercaya   untuk  mengemban  amanat  berupa  tugas untuk  menciptakan/ berkreatifitas dalam  menata kehidupan yang berakhlakul karimah dan berkebudayaan/adat dengan akal dan perasaan yang dimilikinya.
Manusia  dalam fitrahnya, sejak lahir sudah tercatat sebagai  makhluk  yang  mempunyai  perasaan, salah satu potensi yang dimiliki oleh manusia adalah potensi rasa kasih sayang yang  ada  pada  dirinya   sejak  lahir.  Kasih   sayang   adalah   fitrah  karena merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Fitrah ini merupakan kemuliaan yang  ditanamkan oleh Allah  dalam setiap hati manusia yang kadarnya sama. Hanya  saja, berkembang  atau tidaknya  fitrah  ini tergantung  seberapa  besar fitrah ini diasah dalam siklus kehidupan dan fase-fase berikutnya.
Jalaluddin Abu Bakar As- Suyuthi(tt: 471) mengutip suatu Hadist dari Muslim dalam bukunya , mengatakan: Bagi  orang  tua,  menyayangi  dan  mencintai  anak  merupakan  fitrah yang  agung  dan  mulia  yang  diberikan  oleh  Allah-terutama  ibu-dalam mendidik anak-anak nya. Rasulullah saw. Bersabda, yang artinya: “Dari  Ibnu  Abbas,  ia  berkata:  Rasulullah   saw.  bersabda:  Bukan termasuk  golongan  kami,  orang  yang  tidak  mengasihi  (orang  yang) lebih kecil, dan (orang yang) tidak mengetahui hak orang yang lebih besar.” (H. R. Muslim).
Fitrah ini-seperti juga fitrah-fitrah yang lain-juga memerlukan bimbingan dan latihan. Jika tidak, maka akan mengalami salah penyesuaian. Sejak dini, jika anak telah diajarkan atas dasar kasih sayang, maka pada tahap berikutnya secara konsisten anak akan mengaplikasikannnya-bahkan tanpa disadarinya. Sedangkan sebaliknya, jika sejak dini anak tidak diajarkan bagaimana berinteraksi dengan dan atas dasar kasih sayang, maka sudah dapat diduga apa yang akan terjadi selanjutnya.

  1. Bentuk- Bentuk Kasih Sayang dalam Islam.
Kasih Sayang Dalam Islam merupakan (role model) atau grand desain teori yang sangat ta’jub apabila kita tela’ah, bagaimana tidak, Dalam Al-Qur’an pun sering dinukilkan tentang urgensi kasih sayang bagi mukmin dan mukminat yang sejati, Islam menempatkan kasih sayang dengan keuniversalannya merupakan agama yang paling lengkap menjelaskan tentang semua aspek dalam semua dimensi kehidupan, salah satunya, termasuk dimensi kasih sayang. Ada beberapa bentuk perwujudan kasih sayang yang dinukilkan dalam Al-Qur`an,  yaitu  shilaturrahim   (silaturrahmi),   ukhuwah   (persaudaraan),   dan akhlakul karimah (akhlak yang mulia), sebagai berikut:
    1. Shilaturrahim (silaturrahmi).
M. Quraisy syihab, (2000:317), Silaturrahmi mengatakan: dalam Islam biasa disebut shilaturrahim, adalah kata majemuk yang diambil dari dua kata, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washal, yang berarti menyambung dan menghimpun. Sedangkan kata rahim, pada mulanya berarti kasih sayang yang kemudian berkembang  sehingga  berarti  pula  peranakan  (kandungan),  karena  anak yang di kandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.
Tata Septayuda (2004:8), menjelaskan salah bukti yang  paling  konkret  tentang  shilaturrahim    yang  berintikan  rasa  kasih sayang adalah pemberian yang tulus tanpa mengharapkan balasan yang diberikan oleh orang tua, terutama ibu kepada anak. Menurut Azyumardi Azra, secara harfiyah silaturrahmi berarti menghubungkan kasih sayang. Hubungan kasih sayang yang sarat dengan nilai-nilai persaudaraan dan kesetiakawanan baik antara sesama muslim, maupun antara sesama manusia.
Silaturrahmi sebagai sebuah komunikasi yang paling utama dalam   Islam   dan   bagian penting  dari  agama  Islam.  Silaturrahmi  merupakan  sarana  yang  paling ampuh untuk mewujudkan persaudaraan menuju persatuan. Silaturrahmi mencakup hal-hal yang mendorong suatu pergaulan yang harmonis antara individu dengan individu, dan individu dengan masyarakat.
Silaturrahmi adalah unsur penting dalam membina ukhuwah Islamiyah.  Seseorang yang mempraktekkan nilai silaturrahmi secara lebih luas, maka dengan sendirinya akan terbina persaudaraan. Dari silaturrahmi akan terjadi ta`aruf atau saling mengenal. Perkenalan dapat menciptakan suatu  masyarakat  yang  damai,  kerjasama  dan  toleransi,  sehingga  akan terbuka pergaulan yang saling membantu. Ada pepatah mengatakan, “tak kenal maka ta sayang”. Pepatah ini memang sangat benar bila dikaitkan dengan manfaat silaturrahmi.
Dalam tradisi Islam, ada satu tradisi yang biasa dinamakan halal bihalal. Menurut pakar-pakar hukum Islam, halal bihalal dalam tinjauan hukum adalah adanya hubungan yang halal M. Quraisy syihab, (2000:318). Dengan demikian, dalam konteks ini halal bihalal akan menjadikan sikap yang tadinya haram atau berdosa, menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Namun jika kita lihat dari konteks ini, maka halal bihalal akan sedikit bergeser dari makna shilaturrahmi.
Meskipun demikian, baik shilaturrahim maupun halal bihalal keduanya mengandung  unsur maaf-memaafkan,  untuk kemudian berbuat baik  terhadap  orang  yang  pernah  melakukan  kesalahan.  Halal  bihahal bukan saja menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain, tetaapi juga agar berbuat baik kepada siapapun. Itulah landasan filosofis dalam setiap aktivitas manusia yang dimaksud dalam Al-Qur’an, yang juga dijadikan sebagai landasan  filosofis bagi siapa saja yang melakukan  halal bihalal agar kembali pada tujuan semula, yakni menyambung tali silaturrahmi sesama umat manusia untuk mengikat dalam sebuah tali persaudaraan yang abadi.
Dalam tradisi kaum sufi, Hamim Thohari, (2004:10), mengatakan bahwa silaturrahmi ini disebut dengan ziarah.mereka sangat menganjurkan-bahkan menjadi ajaran utama bagi kaum sufi, sebab hakikat  dari shilaturrahmi  adalah  menjalin  dan menebarkan kasih sayang. Menebarkan kasih sayang itulah yang menjadi dari  ajaran  kaum  sufi,  baik  kasih  sayang  kita  kepada  Allah,  sesame manusia, maupun  sesama makhluk. Silaturrahmi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan.  Sebagai  amalan,  shilaturrahmi  dapat  dilakukan  dengan berbagai  cara,  misalnya  dengan  bertemu  dan  saling  mendoakan  sesuai dengan maknanya  yang berarti menghubungkan kasih sayang. Bagi orang mukmin silaturrahmi adalah keniscayaan, karena ia berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, masyarakat dan lingkungannya.

    1. Ukhuwah (persaudaraan).
Ukhuwah pada mulanya berarti “persamaan dan keserasian dalam banyak hal”- baik persaudaraan karena keturunan maupun persaudaraan karena persamaan sifat- sifat, demikian menurut M. Quraisy syihab, (2000:357). Ukhuwah berasal dari kata dasar akh  yang berarti saudara, teman akrab atau sahabat. Bentuk jamak dari akh dalam Al-Qur’an  ada dua  macam.  Pertama,  ikhwan  yang  biasanya  digunakan untuk  persaudaraan  dalam  arti  tidak  sekandung.  Kedua,  ikhwah  yang digunakan untuk makna persaudaraan satu keturunan. Dalam Al- Quran, hubungan  aantar  kaum  mukmin  disebut  ikhwah  bukan  ikhwan,  yang berarti bahwa orang mukmin bukan sekedar teman bagi mukmin yang lain, namun  lebih  dari  itu  adalah  saudara.  Namun  dalam  ayat  lain  juga disebutkan  sebagai  ikhwan. Al-qur’anul Karim, (2005:103).  Struktur  kata  uhuwah  sama  dengan  kata bunuwah dari kata ibnun yang artinya anak laki-laki. Akh dapat berarti saudara, bentuk jamaknya ikhwah, dapat pula berarti   kawan, bentuk jamaknya ikhwan. Sepengetahuan kita, ukhuwah sering di sandingkan dengan kata islamiyah  yang  berarti  persaudaraan  sesama  muslim,  yang  merupakan salah satu pokok ajaran Islam yang mengajarkan persamaan. Konsep ini merupakan  satu  tawaran  bagi  ummat  manusia  (dibedakan  dari  konsep ummah)  untuk  merujuk  kemanusiaan.  Konsep  ukhuwah yang  dinukil dalam Al-Quran ini mengandung perluasan makna sebagai persamaan dan keserasian dalam banyak hal. (Jalaluddin, (2002: 210). Kalau kita  mengartikan  ukhuwah  dalam  arti  persamaan,  maka paling tidak kita akan menemukan ukhuwah tersebut tercermin dalam beberapa hal yaitu:
      1. Ukhuwah  fi al- Ubudiyyat,  yang mengandung  arti persamaan  dalam ciptaan dan ketundukan kepada Allah sebagai Pencipta. Persamaan seperti ini mencakup persamaan antara sesama makhluk ciptaan Allah.
      2. Ukhuwah   fi  Al-Insaniyyat,   yang  mengandung   pengertian   bahwa manusia memiliki persamaan dalam asal keturunan (dari Adam dan Hawa).  Persamaan  ini  menjadikan  manusia  memiliki  dasar persaudaraan  kemanusiaan  dalam ruang lingkup yang luas dan permanen.   Luas   dalam   arti   universal   (tidak   terbatas   pada   letak geografis,  bahasa,  suku  dan  sebagainya),  dan  permanen  dalam  arti berlaku sepanjang zaman selama masih hidup.
      3. Ukhuwah fi al-Wahdaniyyat wa an–Nasab, yang meletakkan dasar persamaan pada unsur bangsa dan hubungan pertalian darah.
      4. Ukhuwah fi Din al- Islam, yang mengacu pada persamaan keyakinan (agama) yang dianut, yaitu Islam. Dasar persamaan ini menempatkan kaum muslimin sebagai saudara, karena memiliki akidah yang sama. Komunitas muslim yang memiliki identitas sama atas dasar persamaan akidah seperti ini dikenal sebagai ummah. Jaadi, merekaa yang seiman, adalah bersaudara.
Menurut Quraish Shihab, (2000:358), ukhuwah Islamiyah mengarah pada arti yang  lebih  luas  dari  sekadar   persaudaraan   sesama   muslim.   Konsep ukhuwah  islamiyah  lebih  diartikan  sebagai  persaudaraan  yang  bersifat Islam,  atau  persaudaraan  secara  Islam. Tampaknya,  apa  yang diungkapkan  oleh Quraish Shihab tersebut bisa lebih diterima,  terutama dalam kaitannya dengan amanat yang dibebankan kepada manusia yang bertugas  sebagai  khalifah  di  bumi  dan  bertanggungjawab  dalam pengelolaan kehidupan di bumi.
Uhkuwah Islamiyah, seperti halnya hubungan persaudaraan antar anggota  keluarga  tertentu,  sebagai  suatu  komunitas  tentu  mengandung nilai-nilai   pengikat   tertentu,   yang   tumbuh   dari   keyakinan   dogmatis maupun yang tumbuh secara naluriah atau fitriyah. Tetapi meskipun ada pengikat yang kuat, masing-masing  pasti memiliki ciri khas, watak, dan latar belakang yang berbeda.
Seperti diketahui, perbedaan sudah merupakan kodrat manusia. Padahal dalam memelihara kehidupan, sebagai khalifah manusia dituntut untuk membina kerukunan. Dan kerukunan perlu ditopang oleh unsur persamaan dan persaudaran dalam arti luas. Keduanya hanya  mungkin berjalan secara harmonis, bila didasarkan atas rasa kasih sayang yang sekaligus menjadi identitasnya. Dalam konteks inilah, kasih sayang sangat diperlukan bagi tugas kekhalifahan manusia dalam memakmurkan bumi.
    1. Akhlakul Karimah (Akhlak Yang Mulia)
Muhammad Abdurrahman, (2002:75), Satu  lagi  ajaran  Islam  yang  tidak  kalah  penting,  yaitu  akhlak. Akhlak  merupakan  realisasi  dari  ajaran  Islam.  Terminologi  ini  dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan moral atau ethic. Baik moral, akhlak maupun etika merupakan segmen yang terpenting bagi manusia pada umumnya,  sebab  manusia  merupakan  makhluk  yang  mempunyai  tata krama,  sopan  santun,  dan  beradab  dalam  setiap  aktivitasnya  selama manusia itu masih hidup. Oleh karena itu, akhlak meliputi seluruh aspek kehidupan.
Al-Ghazali memberikan pengertian tentang akhlak, yaitu sifat dan perilaku      yang konstan dan   meresap   dalam   jiwa,   darinya   tumbuh perbuatan-  perbuatan  yang wajar dan mudah  tanpa  memerlukan  pikiran dan pertimbangan, Zainuddin dkk, (1991: 102).  Dari   pengertian   di   atas,   akhlak   menurut   Al-Ghazali   harus mencakup dua syarat, yaitu:
      1. Perbuatan  itu harus  konstan.  Artinya,  harus  dilakukan  berulang  kali dalam bentuk yang sama, sehingga dapat menjadi kebiasaan.
      2. Perbuaatan yang konstan itu harus tumbuh dengan sendirinya, sebagai wujud reflektif dari jiwa tanpa pertimbangan dan pemikiran – seperti tekanan-tekanan, pengaruh, ajakan, dan sebagainya.
Sedangkan F. Gabriele dalam Ensiklopedia of Islam sebagaimana dikutip  M.  Abdurrahman,  menyebutkan  bahwa  akhlak  atau  moral  yang sering kita sebut dengan adab, berasal dati terminologi arab yang berarti adat  istiadat,  kebiasaan,  etika  atau  sopan  santun.  Inilah  tatanan yang seringkali digunakan manusia dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Istilah tersebut dalam bahasa Latin disebut urbanitas yang berarti “kehalusan” atau “kebaikan” yang digunakan sebagai tata krama  dalam bergaul, demikian menurut Muhammad Abdurrahman, (2002:75).  Nilai-nilai  akhlak  sangat  diperlukan  untuk  membina  manusia agar dapat membedakannya dengan makhluk yang lain.
Dalam terminologi Islam, sebenarnya tidak ada istilah moral, yang ada hanya akhlak. Dalam ajaran Islam, akhlak tidak bisa dipisahkan dari keimanan. Keimanan merupakan pengakuan hati, sementara akhlak adalah refleksi dari iman yang berupa perilaku, ucapan atau sikap. Dengan kata lain, akhlak adalah abstraksi dari keimanan yang tercermin dari sikap dan perilaku  sebagai  bukti  keimanan  yang  dilakukan  dengan  kesadaran  dan hanya karena Allah.
Senada  dengan  hal  tersebut,  dalam  Al-Quran  juga  sering disebutkan  setelah  ada  pernyatan  “orang-orang  yang  beriman”,  sering diikuti dengan kata “beramal saleh”. Dalam hal ini dapat kita ambil pengertian   bahwa   amal   saleh   adalah   manifestasi   dari   akhlak   yang merupakan perwujudan dari keimanan seseorang.

  1. Penutup.
  • Kasih sayang dimaknai kelembutan hati dan kepekaan perasaan sayang terhadap orang lain. Dalam Al-Qur`an, kasih sayang dipresentasikan dalam kata Ar-Rahmah (kasih sayang). Kasih sayang merupakan sifat Allah yang paling banyak diungkapkan dalam al-Qur`an dalam bentuk kata yang berbeda yaitu Ar-Rahman yang biasanya dirangkaikan dengan kata Ar-Rahim yang berarti pengasih dan penyayang yang menunjukkan sifat-sifat Allah.
  • Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keuniversalannya merupakan agama yang paling lengkap menjelaskan tentang semua aspek dalam kehidupan-termasuk kasih sayang. Ada beberapa bentuk perwujudan kasih sayang yang dijelaskan dalam Al-Qur`an, yaitu shilaturrahim   (silaturrahmi),   ukhuwah   (persaudaraan),   dan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Dan lain sebagainya.
  • Adapun Materi Pendidikan kasih sayang di sekolah yang bisa diajarkan kepada para siswa disesuaikan dengan kurikulum yang ada, tentunya guru juga bisa menambah materi-materi yang berkaitan dengan kasih sayang seperti mengajarkan sikap Nabi Muhammad kepada siswa, menceritakan kisah kasing sayang keluarga Nabi Muhammmad, Sahabat Rasul, Kisah Sahabat Nabi, dan seluruh kisah-kisah kasih sayang para Ambiya dan Alim Ulama, materinya antara lain:
    • Adab dan sopan santun
    • Berperilaku baik terhadap diri sendiri, orang tua dan guru
    • Mengutamakan keikhlasan dalam berbuat,
    • Bersikap jujur,
    • Saling menyayangi sesama manusia dan alam sekitar
    • Amanah,
    • Ta’at Kepada Allah dan Rasul-Nya.
    • Sabar,
    • Amanah,
    • Saling menolong.
    • Dan lain-lain sebagainya.
  • Metode yang bisa digunakan dalam peoses pendidikan kasih sayang, antara lain:
  1. TanyaJawab
  2. Ceramah
  3. Inquary learning
  4. Diskusi
  5. Metode racikan guru (kolaborasi).
  6. Keteladanan
  7. Pemberian tugas
  8. Demontrasi
  9. Kooperatif,
  10. Dan lain sebagainya.

Wallahu A’lam Bissawaf...



Biodata:
Penulis            :  Faisal, S. Pd I.
Pekerjaan                :  Guru Honor MTsN Bambong, Peneliti dan Mahasiswa Pasca Sarjana
                UIN-ar-Raniry Banda Aceh
Telpon/HP        :  0823 6776 9035.
Gmail                     :  rajafaisal.alqarni@gmail.com

D:\Foto MTsN\FAISAL SANTUNAN.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar